Toko-mu.com | Toko Jaket dan Aksesoris Manchester United

Toko-mu.com | Toko Jaket dan Aksesoris Manchester United
Jual Jaket dan Aksesoris Manchester United Plaing lengkap paling lengkap

Panasnya Kota Manchester Tahun ini dengan Duel Dua Manager

Jakarta - Jangan bandingkan Manchester dengan Jakarta. Untuk ukuran sebuah kota yang megah, luas, dan metropolis, Jakarta unggul jauh di atas Manchester.

Tapi, Manchester selalu punya pesonanya sendiri. Perkara "cuma" kota industri dengan sudut-sudut yang kusam (atau dalam bahasa kekasih David de Gea, Edurne, mirip bagian belakang kulkas) dan cuaca yang hampir selalu mendung, Manchester tetap menarik untuk dibicarakan. Bar-barnya, museum seni dan sains-nya, hingga skena musik dan band-band yang dimunculkannya.

Apalagi dari urusan sepakbola. Tanpa mengecilkan yang lain, kota Manchester punya semua yang diperlukan untuk menjadi pusat perhatian di Premier League musim ini. Alasannya sederhana: Dua klub besar, dua manajer top, dan pemain-pemain kelas dunia.

Suporter Manchester United dan Manchester City boleh jadi sudah sangat tidak sabar menunggu bergulirnya Premier League 2016/2017. Bagaimana tidak, tim mereka akan ditangani oleh manajer papan atas dengan nama yang mentereng.

Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Beberapa musim silam, keduanya bersaing dalam satu negara dengan kota yang berjarak ratusan kilometer. Kini keduanya "bertetangga", dalam sebuah kota yang tidak megah-megah amat dan juga tidak luas-luas amat.

Di antara Jose dan Pep ada puluhan trofi yang sudah dikumpulkan, ada juga satu-dua kepal ego dan filosofi yang berlawanan; Jose yang pragmatis dan Pep yang idealis. Keduanya adalah kutub yang berlawanan dan pernah terlibat rivalitas yang panas.

Pertanyaannya sekarang, dengan kehadiran dua sosok agung di dunia sepakbola itu, apakah Manchester cukup besar untuk keduanya?

***

Kedatangan Jose Mourinho disambut dengan antusiasme tinggi oleh suporter United. Terlepas dari apa yang akan diterapkan pria asal Portugal itu nantinya, setidaknya mereka (merasa) tidak akan lagi harus menyaksikan tim kesayangannya memainkan gaya sepakbola yang membosankan.

Bukan rahasia lagi apabila suporter United dibuat ngantuk dengan permainan Wayne Rooney dkk. selama ditangani oleh Louis van Gaal. 'Setan Merah' di bawah Van Gaal dinilai kurang atraktif, cuma mencatatkan banyak penguasaan bola tanpa mampu menciptakan banyak peluang untuk mencetak gol.

[Baca Juga: Kendati Pragmatis, Mourinho Berbeda dari Van Gaal]

Tapi, Mourinho siap menghadirkan permainan yang berbeda. Di awal kedatangannya, The Special One menjanjikan sepakbola yang lebih intens.

"Ya, kami ingin bermain berbeda dibandingkan musim lalu. Mr. Van Gaal jelas merupakan manajer top dan filosofinya sangat jelas. Filosofi saya berbeda. Bukan lebih baik, itu berbeda. Sepakbola saya berbeda," ucapnya kala itu.


Bukan cuma fans yang semangat menyambut Mourinho. Pemain-pemain United, yang akan berinteraksi langsung dengan Mourinho, tak kalah antusias. Rooney misalnya. Kapten United itu merasa klubnya tengah menjalani masa-masa yang menarik.

Antusiasme lantas berkembang menjadi optimisme --optimisme yang mungkin paling tinggi setelah kepergian Sir Alex Ferguson. Belanja United di musim panas ini jadi alasannya.

United memang 'cuma' mendatangkan empat pemain di bursa transfer musim panas ini. Tapi, nama-nama yang didatangkan sudah cukup membuat fans-fans mereka bersemangat.

Eric Bailly, Henrikh Mkhitaryan, Zlatan Ibrahimovic, dan Paul Pogba. Tanpa mengecilkan yang lainnya, dua nama yang disebut terakhir menjadi yang paling menumbuhkan antusiasme.

Siapa yang tak antusias dengan kedatangan Ibrahimovic, salah satu bomber terhebat yang malang melintang di kompetisi Eropa. Meski tak sedikit yang menilai dia arogan, tapi Ibrahimovic memang pantas dan berhak membusungkan dadanya.

Faktor usia, 34 tahun, dirasa juga tak akan jadi masalah untuk Ibrahimovic. Dia masih punya rasa lapar dan motivasi yang tinggi. Inggris adalah kompetisi yang belum ditaklukkannya.

Ibrahimovic adalah perwujudan sempurna Mourinho di atas lapangan: ego, arogansi, rasa percaya diri, ia punya semuanya. Jika tiap pelatih baru menginginkan seorang pemain yang bisa menjalankan visinya di atas lapangan, maka pada diri Ibrahimovic-lah keinginan itu disampirkan Jose. Reuni keduanya diyakini sebagai sebuah perkawinan yang sempurna.

Kedatangan Pogba juga disambut antusiasme yang luar biasa. Bagaimana tidak, United memecahkan rekor transfer dunia untuk mendatangkan gelandang internasional Prancis berusia 23 tahun itu. Uang sebesar 105 juta euro dikeluarkan United untuk membawa kembali pemain yang pernah mereka lepas itu.

Harapan tinggi tentu digantungkan kepada Pogba seiring dengan harganya yang selangit. Pogba dinilai telah melengkapi tim impian Jose untuk mengarungi kompetisi musim ini.

Ya, antusiasme. Itulah yang dihadirkan Jose pada United musim ini. Kendati, ini bukan urusan antusiasme saja. Baik Ibrahimovic dan Pogba punya alasannya masing-masing, mengapa sampai mereka didatangkan. Ibrahimovic punya ketajaman dan kepribadian yang kuat --sesuatu yang hilang dari United belakangan ini--. Pogba adalah all-rounder, atribut tekniknya lengkap, ia diharapkan bisa menjadi pangkal serangan United dari lini tengah.

[Baca Juga: Memainkan Paul Pogba dengan Baik dan Benar]

***

City juga punya manajer yang tak kalah hebat dalam diri Pep. Perekrutan Pep sudah diumumkan City di pertengahan musim lalu, tepatnya di bulan Februari. Jauh sebelumnya, rumor sudah berkembang luas kalau Pep akan bergabung dengan City. Dan The Citizens pun menyebutnya sebagai "rahasia yang paling susah disembunyikan".

City akhirnya mendapatkan manajer yang sudah mereka idam-idamkan selama empat tahun.

Reputasi serta prestasi Pep jelas membuat City menaruh harapan tinggi. Pria asal Spanyol itu sudah membuktikan diri sebagai salah satu pelatih terbaik dunia selama menangani Barcelona dan Bayern Munich. Bersama Barca, Guardiola meraih 14 trofi hanya dalam waktu empat tahun. Sementara bersama Bayern, Guardiola memenangi tujuh gelar juara kendati gagal meraih titel Liga Champions.

Soal belanja, sejauh ini, City sudah mengeluarkan dana sekitar 173 juta euro (sekitar Rp 2,5 triliun) untuk mendatangkan delapan pemain baru. Mereka adalah Ilkay Guendogan, Aaron Mooy, Nolito, Oleksandr Zinchenko, Leroy Sane, Gabriel Jesus, Marlos Moreno, dan John Stones.


Stones menjadi rekrutan termahal City di bursa transfer musim panas sejauh ini. Bek berusia 22 tahun itu didatangkan dengan dana hingga mencapai 55 juta euro. Kendati masih muda dan mahal, Stones adalah pemain dengan profil yang cocok dengan idealisme Pep. Eks bek Everton itu adalah seorang ball-playing defender, mirip-mirip dengan Gerard Pique di Barcelona. Ia bisa memulai serangan dari lini belakang. Dan untuk alasan yang sama juga, Pep dulu mengubah posisi Javi Martinez dari gelandang menjadi bek tengah.

Sebagai pelatih yang dikenal punya gaya main yang sudah paten, Pep tentu sudah tahu betul pemain seperti apa cocok dengan kebutuhan timnya. Mereka yang didatangkan disesuaikan dengan keinginannya .

Sane, misalnya. Pemain 20 tahun asal Jerman itu disebut Pep cocok untuk timnya. Sane tidak kagok ketika menguasai bola, ia cepat, dan piawai dalam melakukan dribel. Yang lebih penting, Sane juga mampu mengkreasikan peluang. Musim lalu, ia masuk dalam lima besar kreator peluang terbanyak untuk Schalke dengan 28 peluang dikreasikan dalam 33 penampilan.

Pep diyakini masih akan menggunakan penguasaan bola sebagai bahan baku utama permainannya. Tetapi, penguasaan bola Pep tidak pernah tanpa alasan. Jika pun itu gagal, ia diyakini masih punya rencana B. Di Barca, ia pernah menggunakan 3-4-3, sedangkan di Bayern ia sempat menggunakan 4-1-4-1.

Jika ada yang patut diacungi jempol dari Pep, maka itu adalah khasanah taktik sepakbolanya yang luas.

[Baca Juga: Guardiola: Tanda City Berdiri Sejajar dengan Zaman]

***

Keberadaan Jose dan Pep jelas akan menjadi sorotan utama di Manchester musim ini. Rivalitas di antara keduanya yang sudah berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun akan berlanjut di tanah Inggris.

Persaingan antara Jose dan Pep memanas di Spanyol. Perang komentar di antara keduanya lantas jadi bumbu El Clasico yang kala itu tak cuma tersaji di level domestik tapi juga di kompetisi Eropa.

Selama Pep menangani Barcelona dan Jose melatih Real Madrid, keduanya berduel 11 kali. Guardiola unggul dengan lima kemenangan sementara Mourinho cuma menang dua kali. Empat laga sisanya berakhir imbang.

Musim ini, derby Manchester yang akan jadi panggung. Mau tak mau publik akan mengarahkan perhatiannya kepada dua manajer tersebut.

Sejauh ini, baik Jose maupun Pep masih enggan sesumbar soal laga tersebut. Keduanya menegaskan bahwa derby Manchester adalah soal United dan City, bukan rivalitas pribadi manajernya.

Tapi, tampaknya tak akan ada yang percaya 'ketenangan' itu akan bertahan lama. Setelah batalnya derby Manchester di tur pramusim di China lalu, publik tentu amat menantikan duel sesungguhnya di Premier League.

Bakal seperti apakah ingar-bingar Manchester menyambut duel tersebut? Kita nantikan saja 10 September nanti di derby pertama musim ini.

====

*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @ndsalusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kami membutuhkan admin,bantu kamim untuk memperbesar anggota manchunian & manchuniangel.
Komen di bawah dengan menyertakan :
Nama :
E-mail :

Dan kirimkan foto tentang Manchunian atau MU ke Misrani_motri@yahoo.co.id

Jual Jaket dan aksesoris MAnchester United paling lengkap

Jual Jaket dan aksesoris MAnchester United paling lengkap
Jual Jaket dan aksesoris MAnchester United paling lengkap

Entri Populer